Analisis Iklan Berdasarkan Etika Bisnis

 

TELKOMSEL DAN XL

  1. Pendahuluan

         Salah satu contoh problem etika bisnis yang marak pada tahun-tahun kemarin adalah perang provider celullar antara XL dan Telkomsel. Berkali-kali kita melihat iklan-iklan kartu XL dan kartu as/simpati (Telkomsel) saling menjatuhkan dengan cara saling memurahkan tarif sendiri. Kini perang 2 kartu yang sudah ternama ini kian meruncing dan langsung tak tanggung-tanggung menyindir satu sama lain secara vulgar. Bintang iklan yang jadi kontroversi itu adalah sule, pelawak yang sekarang sedang naik daun. Awalnya sule adalah bintang iklan XL. Dengan kurun waktu yang tidak lama Telkomsel dengan meluncurkan iklan kartu AS. Kartu AS meluncurkan iklan baru dengan bintang sule. Dalam iklan tersebut, sule menyatakan kepada pers bahwa dia sudah tobat. Sule sekarang memakai kartu AS yang katanya murahnya dari awal, jujur. Perang iklan antar operator sebenarnya sudah lama terjadi. Namun pada perang iklan tersebut, tergolong parah. Biasanya tidak ada bintang iklan yang pindah ke produk kompetitor selama jangka waktu kurang dari 6 bulan. Namun pada kasus ini, saat penayangan iklan XL masih diputar di televisi sudah ada iklan lain yang menjatuhkan iklan lain dengan menggunakan bintang iklan yang sama.

         Dalam kasus ini kedua provider telah melanggar peraturan-peraturan dan prinsip-prinsip dalam Perundang-undangan. Dimana dalam salah satu prinsip etika yang diatur di dalam EPI, terdapat sebuah prinsip bahwa “Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung.” Pelanggaran yang dilakukan kedua provider ini tentu akan membawa dampak yang buruk bagi perkembangan ekonomi, bukan hanya pada ekonomi tetapi juga bagaimana pendapat masyarakat yang melihat dan menilai kedua provider ini secara moral dan melanggar hukum dengan saling bersaing dengan cara yang tidak sehat. Kedua kompetitor ini harusnya professional dalam menjalankan bisnis, bukan hanya untuk mencari keuntungan dari segi ekonomi, tetapi harus juga menjaga etika dan moralnya dimasyarakat yang menjadi konsumen kedua perusahaan tersebut serta harus mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat.

imagesiklan-as-sule-vs-iklan-xl-baim

  1. Teori

Fungsi iklan dibagi kedalam 2 jenis:

1. Fungsi Informasi

Hal ini berarti bahwa suatu iklan menjelaskan perihal/servis, keadaan dan fitur. Maksudnya adalah iklan menjelaskan tentang fungsi utama dan fungsi atribut dari suatu produk tersebut. Contohnya, suatu iklan yang mempromosikan sebuah handphone akan memberikan informasi kepada masyarakat bahwa handphone tersebut memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi, sedangkan fungsi atributnya berupa fitur-fitur yang ditawarkan agar calon pembeli tertarik untuk membelinya, seperti handphone tersebut dilengkapi dengan OS Android terbaru, kamera dengan kualitas yang lebih baik, dan lain-lain.

2. Fungsi Persuasif

Fungsi ini lebih menekankan dalam membujuk orang agar membeli produk atau jasanya (promosi). Jadi bisa dikatakan bahwa fungsi ini tidak memiliki keterkaitan dengan kualitas produk tersebut. Fungsi jenis ini banyak ditemui di berbagai tempat penjualan produk, seperti mall. Implementasi dari fungsi ini antara lain dapat berupa diskon, beli 2 dapat 1, jika membeli suatu produk, maka akan mendapat produk pelengkapnya, dan masih banyak lagi jenis promosi yang dapat dilakukan penjual untuk menarik masyarakat agar membeli produknya.

Iklan yang Tidak Etis

Kualitas iklan tidak hanya dinilai dari isi dan kreatifitasnya saja, tetapi juga dinilai dari apakah iklan tersebut telah mematuhi kode etika bisnis yang berlaku dalam dunia pemasaran. Berikut ini beberapa kriteria iklan yang tidak etis:

  • Iklan tersebut dengan sengaja memberikan informasi mengenai produk yang tidak sesuai dengan kondisi yang nyata dari produk tersebut. Hal ini menyebabkan konsumen mendapatkan ekspetasi atas produk yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Akibatnya, ketika membeli produk tersebut, kebanyakan konsumen akan merasa tidak puas atas apa yang didapatkan ketika membeli produk tersebut.
  • Iklan yang isi atau kreatifitasnya menyesatkan dan menjerumuskan konsumen. Kejadian ini sering terjadi pada iklan yang memasarkan produk rokok, minuman keras, dan produk-produk lainnya yang memperoleh persepsi yang seragam dari masyarakat. Contohnya iklan rokok. Sudah sering dijumpai iklan yang memiliki isi bahwa dengan merokok, orang menjadi lebih tenang dan percaya diri. Atau iklan kondom, yang memiliki efek tidak langsung yaitu menyerukan konsumen untuk lebih sering melakukan hubungan seks.

 

Selain itu, suatu iklan dikatkan etis atau tidak, bisa dinilai dari 3 hal berikut, yaitu:

1. Maksud si pengiklan

Jika tujuan dari pembuatan iklan tersebut untuk meningkatkan penjualan semata tanpa mempedulikan keadaan konsumen, maka iklan tersebut dapat dikatakan tidak mematuhi kode etika bisnis. Iklan yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan minuman keras semata akan menyebabkan beberapa kejadian tidak langsung, seperti kematian akibat alkohol, kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi efek negatif yang terjadi jika tujuan iklan tersebut tidak mempedulikan keadaan orang banyak.

2. Isi Iklan

Tidak semua isi iklan dapat diterima oleh seluruh golongan masyarakat. Ada iklan yang hanya ditujukan kepada golongan kaum dewasa, ada iklan yang isinya memiliki peasan rasis dan diskriminatif, ada juga iklan yang berisi pesan propaganda. Jika suatu iklan mengandung isi-isi tersebut, maka iklan tersebut tidak beretis. Selain itu juga ada jenis isi iklan yang mengajak orang untuk melakukan hal yang salah. Seperti iklan minuman keras, dimana isinya mengajak orang untuk mengkonsumsi lebih banyak minuman keras, dengan cara memberikan isi yang berkesan bahwa dengan meminum minuman keras, maka orang tersebut dapat lebih mudah dalam bersosialisasi dengan orang lain, dan sebagainya. Jenis iklan seperti ini sering dikatakan tidak beretis karena merubah sudut pandang seseorang dan merusak moral orang tersebut.

3. Keadaan publik yang dituju

Keadaan masyarakat juga perlu dipertimbangkan dalam membuat sebuah iklan. Contohnya ketika umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa. Contoh iklan yang tidak etis adalah iklan produk makanan yang ditayangkan di televisi pada siang hari ketika umat muslim sedang berpuasa. Iklan tersebut tidak etis karena mengganggu umat muslim yang sedang puasa dengan menayangkan gambar makanan atau adegan orang yang sedang menikmati produknya di televisi.

  1. Analisis

Menurut saya, apa yang dilakukan oleh XL dan Telkomsel sudah menyalahi aturan yang ada. Mungkin dalam pemasaran itu tidak masalah, karena itu menjadi salah satu strategi perusahaan untuk meningkatkan kredibilitas dan profit yang melimpah. Tetapi jika dilihat dari kacamata beretika bisnis, mungkin mereka sudah tidak beretika lagi. Sebab mereka saling serang – menyerang dalam menjatuhkan produk lawan, dan itu sudah dianggap melenceng dari etika bisnis.

  1. Referensi

http://radensanopaputra.blogspot.co.id/2013/11/contoh-kasus-pelanggaran-etika-bisnis.html

http://ayip-el.blogspot.co.id/2014/10/contoh-perusahaan-yang-beretika-bisnis.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s