Cerpen – Mengejar Mimpi

MENGEJAR MIMPI

Disusun oleh : Amanda Okta Rifani

Di senin yang panas, siswa-siswi SMA Garuda akan mengikuti upacara bendera. Seluruh siswa-siswi berkumpul di lapangan upacara.
Putra Sejati adalah salah satu dari sekian siswa yang berkumpul di sana. Namun wajahnya terlihat pucat. Tiba-tiba seorang siswi memanggil Putra. Siswi itu bernama Mawar, teman sekaligus sahabat Putra dari kecil.
“Hei, Put! Kok mukamu pucat begitu? Kalau gak mampu ke UKS aja, yok”
“Gak kok, aku gak apa-apa”, balas Putra.
“Yang bener? Tapi muka mu pucat”, tanya Mawar ragu.
“Ya. Aku yakin, kok. Kamu tenang aja”.
Baru 5 menit setelah upacara dimulai Putra tiba-tiba pingsan. Rio, teman sekelas Putra bertanya, “Siapa yang pingsan?”. Kemudian Deki, yang juga teman sekelas Putra menjawab, “Siapa lagi kalau bukan si Putra?”.
Putra dibawa ke UKS oleh anggota PMR. Di sana Putra dibaringkan di kasur, lalu digosokkan minyak kayu Putih oleh Mawar, kebetulan Mawar adalah ketua PMR di SMA Garuda. Di saat Putra sadar Mawar berkata, “Sudah aku bilang kalau sebelum upacara itu sarapan dulu. Pasti kamu gak sarapan“.
Putra pun hanya membalas dengan meminta maaf, “Iya, aku minta maaf”
“Dah lah, kamu masih mau tetap di sini atau ke kelas?”, tanya Mawar.
“Aku mau ke kelas aja”, jawab si Putra.
“Ayo, aku antar”, ajak Mawar.
“Gak usah, aku bisa sendiri kok”, ucap Putra berusaha meyakinkan.
“Kamu yakin?”, tanya Mawar khawatir.
“Yakin kok, kamu tenang aja”, ujar Putra sambil bangun dari kasur dan bergegas menuju kelas.
Sesampainya Putra di kelas, Deki berkata, “Si banci datang”. Kemudian disusul riuh suara teman-temannya yang menertawakan Putra.
Mawar yang melihat kejadian itu meladeni ledekan Deki, “Hei, Deki! Mulutmu mau aku tampar kah?”
“Wow, sang kekasih membela”, ledek Deki.
“Ya udahlah, War. Jangan diduliin anggap aja orang gila, mending kita duduk aja”, ucap Putra kepada Mawar.
Mawar dan Putra pun duduk di kursi mereka masing-masing. Tak lama kemudian guru olah raga mereka datang, “Selamat pagi anak-anak”. Lalu dengan serentak siswa menjawab, “Pagi, Pak”
“Saya tadi ditelfon oleh salah seorang pelatih timnas, dia menawarkan untuk ikut seleksi timnas U-17 untuk mewakili Indonesia di piala AFF 6 bulan lagi. Bagi kalian yang ingin ikut seleksi timnas U-17, silahkan saja daftar sekarang biar saya catat”, jelas Pak Guru kepada siswa-siswinya.
Rio dan Deki mengangkat tangan. Baru dua orang, sambil mencatat, Pak Guru pun bertanya lagi, “Rio dan Deki. Ayo siapa lagi?”
“Saya mau ikut, Pak”, ucap Putra sambil mengangkat tangannya.
“Gak salah kah? Anak yang sering pingsan mau ikut? Gak bakalan bisa”, ledek si Deki lagi.
Anak-anak satu kelas menertawakan Putra kecuali Mawar. Lalu Mawar bertanya kepada Putra, “Kamu yakin, Put?”. Dan kemudian dibalas Putra, “Aku yakin, kok”.
“Huush.. Harap tenang. Ya sudah, Putra juga bisa ikut seleksinya mulai minggu depan. Baik, kalau gak ada lagi, bapak mau ke kelas lain. Selamat Pagi”, kata Pak Guru sambil meninggalkan kelas. “Pagi, Pak”, jawab seluruh siswa-siswi di kelas.
Setelah Pak Guru keluar, Mawar pun bertanya kepada Putra, “Put, coba kamu pikir-pikir lagi. Fisik kamu itu lemah. Mampu kamu untuk ikut seleksi?”. Kemudian dijawab oleh Putra, “Aku yakin, kok. Aku bisa. Makanya kamu bantu aku”.
Mawar hanya diam. Lagi-lagi Putra berkata, “Ayolah, tolong aku. Kamu kan tau ini adalah impianku dari kecil?”
Mawar yang masih bingung hanya menjawab, “Hmm.. Gimana ya?”.
“Mawar.. Tolong ya? Pliss~”, bujuk Putra tak menyerah.
“Hmm… Oke lah”, ucap Mawar luluh.
Saking senangnya mendengarnya, Putra pun berloncat-loncat tak karuan sampai lupa kalau dia berada di kelas. Tapi Mawar langsung menginterupsi, “Jangan senang dulu kamu. Ini belum apa-apa. Kamu harus buat fisikmu kuat dulu”
“Oke. Setelah pulang sekolah nanti kita mulai latihan”, ucap Putra setuju.
“Iya deh. Terserah kamu”, ujar Mawar.
Sepulang sekolah pun mereka membeli suplemen, susu dan barang-barang perlengkap untuk latihan.

Satu minggu kemudian…

Sudah satu minggu Putra latihan fisik. Alhamdullilah selama latihan, Putra gak pernah pingsan atau terlihat lemah.
Mulai hari ini, Pak Guru selaku Pelatih yang akan menyeleksi siswa yang akan ikut seleksi timnas U-17 selama 2 minggu dan siswa yang ikut seleksi akan diizinkan untuk tidak mengikuti pelajaran oleh sekolah. Dari 50 orang siswa yang akan diseleksi hanya akan dipilih 2 orang siswa saja. Siswa yang ikut seleksi pun berkumpul di lapangan untuk latihan.
“Selamat pagi, anak-anak”, salam Pelatih mengawali latihan.
“Pagi, Pak”, jawab seluruh peserta seleksi serentak.
“Hari ini kita akan mulai seleksi, seleksi ini membutuhkan fisik yang kuat. Jadi bila ada yang gak kuat lebih baik mundur dari sekarang”, saran Pelatih.
Mendengarnya, Deki mulai meledek Putra lagi. “Ada satu orang, Pak. Si Putra tuh. Hati-hati, Pak, nanti dia pingsan”, kemudian para peserta yang lain menertawakan Putra.
“Aku memang lemah, tapi aku gak bakal nyerah dan berusaha. Ini impian aku”, ucap Putra tak mau kalah.
“Diam semua. Kamu Deki, jangan pernah mengejek orang lagi. Kalau bapak sampai dengar kamu mengejek Putra lagi, kamu bakalan bapak keluarkan dari daftar seleksi. Bapak hargai niat Putra. Walau bapak akui fisiknya lemah, tapi dia mau berusaha”, kata Pelatih kepada Deki membela Putra.
Para siswa pun terdiam. Setelahnya mereka mulai berlatih.

Dua minggu kemudian…

Hari ini pelatih mengumumkan siapa yang akan mengikuti seleksi timnas.
“Saya akan mengumumkan yang mengikuti seleksi, Bagi yang tidak terpilih, bapak harap kalian jangan kecewa. Kalian masih bisa ikut seleksi-seleksi yang lain”, kata Pak Guru.
Putra sangat deg-degan, dia berharap dia bisa masuk seleksi. kemudian Pak Guru melanjutkan perkataannya
“Oke, yang akan mengikuti seleksi timnas adalah Deki dan Putra. Selamat buat kalian ya!”, lanjut Pak Guru yang disusul tepuk tangan riuh dari seluruh peserta.
Mendengar hal itu, Putra terkejut. Dia sangat senang sekaligus tak menyangka bahwa dia adalah satu dari dua peserta yang terpilih masuk seleksi timnas.
“Minggu depan kalian akan mulai ikut seleksi. Kalau masalah sekolah, kalian tenang aja, nanti pihak guru akan mengadakan pelajaran tambahan untuk kalian. Jadi, selama kalian seleksi satu bulan, kalian gak perlu terlalu mikirin sekolah. Seleksi akan dimulai bulan depan. Dan siapkanlah fisik kalian”, jelas Pak Guru panjang lebar.
Pulangnya, Putra tidak langsung pulang kerumah melainkan dia singgah ke rumah Mawar. Tentu aja, untuk memberitahukan kabar gembira ini.
“Mawar! Aku berhasil. Aku bisa ikut seleksi”, ucapnya semangat.
“Wahhh.. selamat ya, Put?”, jawab Mawar yang turut senang atas keberhasilan Putra.
“Ini semua berkat kamu, War. Kalau gak ada kamu pasti aku gak jadi ikut”
“Nggak. Ini berkat usaha kamu sendiri, Put. Semangat kamu yang bisa membuat kamu seperti ini. Tapi jangan terlalu senang dulu. Ini masih ¼ perjalanan. Masih banyak rintangan yang harus kamu jalani”
“Iya, aku ngerti. Makasih ya, War? Kamu emang sahabatku yang paling baik”
Sambil tersenyum, Mawar menjawab, “Iya, sama-sama”.

Satu bulan kemudian…

Hari ini Putra akan mulai ikut seleksi selama satu bulan. Di hari ini juga Putra akan masuk asrama. Ya, selama seleksi mereka akan masuk asrama.
Hari pertama yang dilewati Putra di asrama tak ada masalah. Sampai di seleksi hari terakhir Putra pun masih terlihat semangat dan hebatnya Putra tidak pernah pingsan selama seleksi itu. Padahal, saat latihan itu waktu istirahatnya gak lama. Pagi, siang, sore dan malam mereka tetap berlatih.
Putra deg-degan, karena di hari terakhir inilah pelatih akan mengumumkan siapa yang terpilih menjadi timnas U-17 yang cuma terpilih 20 orang, sedangkan yang ikut seleksi ada 300 orang dari seluruh Indonesia. Pelatih pun mengumumkan siapa yang terpilih,
“Sore ini saya akan mengumumkan kepada kalian siapa yang terpilih. Sulit bagi saya memilih, soalnya permainan kalian semua bagus, tapi saya harus memilih 20 orang saja. Bagi yang gak terpilih kalian tetap harus bangga. Bukan hal yang mudah untuk kalian sampai disini”
Pelatih pun melanjutkan pembicaraannya, “Baiklah, saya akan membacakan siswa yang terpilih satu per satu”. Semua peserta hanya menunduk dan berdo’a.
“Kedua puluh orang itu adalah, Muhammad Reza, Toni Saputra, …, dan yang terakhir adalah… Putra Sejati”
“Ha? Saya, Pak?”
“Ya, kamu, Put. Dan kamu akan menjadi kaptennya”
Sungguh bahagia Putra mendengarnya, “Terimakasih, Pak. Saya janji saya akan memberikan yang terbaik”
Deki protes, dia berkata “Loh, Pak? Kenapa Putra jadi kapten dan kenapa saya gak dipilih? Permainan saya kan bagus”
Tapi pelatih berkata, “Kamu memang bagus tapi sifat kamu yang membuat kamu gak saya pilih. Saya memperhatikan kamu itu mau menang sendiri, suka mengatur dan kamu egois, jadi saya sarankan kamu hilangkan sifatmu yang seperti itu”.
Deki pun hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lalu pelatih berkata kepada Putra, “Dan kamu, Put. Saya pernah dengar dari guru olahraga mu, fisik mu lemah. Tapi sekarang kamu bisa buktikan kamu tidak selemah seperti yang dipikir teman-temanmu”, kemudian Putra menjawab, “Iya, Pak. Terimakasih pak saya sangat bersyukur”.
Pelatih pun melanjutkan, “Hey, bagi kalian yang terpilih, siapkanlah fisik kalian untuk ikut piala AFF 4 bulan lagi”, kemudian serentak siswa berkata “Siap, Pak!”.

4 bulan kemudian…

Tak terasa 4 bulan telah berlalu. Ini pertama kalinya timnas ikut piala AFF. Di babak penyisihan tak ada masalah yang dihadapi mereka. Hanya saja mungkin sewaktu melawan Malaysia , tapi Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia di babak penyisihan.
Disaat babak penentuan juara 1 dan juara 2 lagi-lagi Indonesia bertemu Malaysia, saat babak pertama skor mereka sama yaitu 1 sama, di babak kedua itulah babak yang membuat semua deg-degan. Gimana gak deg-degan? Skor masih satu sama sedangkan waktu yang tersisa hanya 3 menit. Tiba-tiba Putra terjatuh, dia mendadak pusing dan mukanya terlihat pucat. Dia berkata dalam hatinya sendiri, “Kenapa kepala aku pusing sekali, ya? Gak aku gak boleh pingsan sekarang aku harus menang. Aku harus membanggakan Indonesia”.
Lalu Putra berdiri dan mengejar bola, kemudian ditendangnya ke arah gawang. Akhirnya tendangan Putra membuahkan hasil. Skor berubah menjadi 2-1, dan wasit meniupkan peluit yang menandakan berakhirnya permainan.
Bahagia, terharu, dan rasa syukur campur aduk jadi satu. Putra pun bersujud sebagai ucapan terima kasihnya. Namun, sudah lima menit Putra bersujud tapi dia tidak bangun-bangun juga. Salah satu temannya menepuk bahunya. Saat itu baru disadari ternyata Putra pingsan dan Putra cepat dibawa ke sebuah ruangan oleh anggota PMI.
Saat Putra sadar dia membuka matanya , dan yang di dan Putra tidak merespon. lihatnya pertama adalah Mawar, “Kamu udah siuman?”
“Aku dimana? Pertandingannya gimana?”,
“Kamu di rumah sakit, Put. Selamat ya, Put. Kamu berhasil membuat Indonesia bangga seperti impianmu”
“Aku ingin kembali ke lapangan. Ayo kita ke lapangan”
“Kondisimu masih lemah, Put, belum bisa kembali ke lapangan”
“Aku udah sehat, kok”, lalu Mawar berkata
“Kamu ini keras kepala. Oke lah yok kesana”
Kemudian Mawar pun mengantarkan Putra ke lapangan.
Sesampainya di lapangan Putra dipeluk pelatih dan teman-temannya. Pelatih berkata, “Terimakasih, Put. Kamu sudah membanggakan Indonesia”, lalu Putra berkata
“Ini bukan cuma karena saya. Ini berkat kita semua, Pak. Kalau gak ada bapak kita gak mungkin bisa hebat seperti sekarang”
Kemudian pelatih berkata , “Kamu memang anak yang baik, Put. Gak salah bapak milih kamu menjadi kapten”
Putra pun cuma tersenyum mendengarnya.
Sungguh bahagia Putra sebab dia bisa mewujudkan impiannya dan Putra bersyukur punya sahabat sebaik Mawar yang selalu membantunya disaat dia susah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s